REKONSILIASI AKAL-WAHYU DALAM FILSAFAT IBN RUSYD

Authors

  • Nur Rahmad Yahya Wijaya STIT Al-Karimiyyah Sumenep

Keywords:

Ibn Rusyd, Akal danWahyu

Abstract

Maraknya klaim-klaim kebenaran atas nama Tuhan dan agama dan paksaan atas satu tafsir kebenaran menunjukkan bahwa kedewasaan berakal dan bernalar masih jauh dari yang semestinya. Ketidakdewasaan ini membuat lupa bahwa pemahaman keagamaan, apapun bentuknya, dari siapapun ia disandarkan, dan dari manapun ia berasal, hanyalah tafsir atas wahyu Tuhan. Akhirnya, ini membuat lupa bahwa sebenarnya kebenaran tidak hanya dapat diakses dengan satu tafsir, satu cara, satu bahasa, dan satu pemahaman. Di antara manusia juga ditemukan bahwa kemampuan bernalar tidak sama dan tidak dapat disamakan. Bahwa kebenaran dapat diraih dengan berbagai bahasanya ini juga ditunjukkan oleh ragam bahasa al-Qur’an yang dapat sesuai dengan berjenjangnya ragam kecerdasan manusia. Tulisan ini menghadirkan Ibn Rusyd yang dengan usahanya menunjukkan bahwa sasaran utama wahyu adalah khalayak manusia pada umumnya. Kebenaran yang disampaikan di dalam wahyu, karenanya, lebih memilih bahasa yang dapat cocok untuk semua kalangan. Tetapi jika seseorang bermaksud mencari kebenaran terdalam, ia harus menelusurinya lewat pencarian akal manusia, yang sebenarnya juga merupakan karunia Tuhan bagi umatnya yang terlatih, dan, bagaimanapun, pertentangan akal-wahyu hanyalah kesan di permukaan luar pemahaman yang sempit dan dogmatis.

Published

2018-09-23

How to Cite

Wijaya, N. R. Y. (2018). REKONSILIASI AKAL-WAHYU DALAM FILSAFAT IBN RUSYD. Jurnal Kariman, 5(1), 35-64. Retrieved from https://ejournal.stit-alkarimiyyah.ac.id/index.php/kariman/article/view/42